22 Agustus 2022

Budaya Hustle Culture: Pengertian dan Dampaknya

Apakah Anda sering lembur saat bekerja? Atau, apakah Anda hampir tidak memiliki waktu untuk diri sendiri demi bekerja keras agar segera naik jabatan? Jika iya, tampaknya Anda harus waspada, karena bisa jadi Anda sedang menjalankan hustle culture.

Dikutip dari laman Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture adalah standar di masyarakat yang menganggap bahwa seseorang hanya bisa mencapai sukses kalau benar-benar mendedikasikan hidup untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan di atas segalanya.

Secara sederhana, hustle culture adalah budaya bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melewati batas kemampuan untuk mencapai tujuan kekayaan, kemakmuran, dan kesuksesan secepat mungkin.

Indonesia pun tak luput dari fenomena hustle culture ini. Apalagi kemajuan teknologi juga turut menjadi salah satu penyebab hustle culture menyebar dengan cepat karena smartphone yang Anda miliki kini tidak hanya berfungsi untuk berkomunikasi, melainkan sarana untuk bekerja juga.

Sayangnya, masa pandemi Covid-19 pun justru memunculkan tantangan baru. Ini karena tren bekerja di rumah justru berisiko meningkatkan tren hustle culture karena working from home tidak memiliki 'batasan' jam kerja yang lebih jelas seperti halnya working from office

Apalagi dampak hustle culture pada berbagai aspek kehidupan? Berikut daftarnya:

  1. Meningkatkan Risiko Penyakit
    Jam kerja pada hustle culture yang panjang bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah dan detak jantung karena aktivasi psikologis yang berlebihan dan stres. Kerja lembur juga berkontribusi terhadap resistensi insulin, aritmia, hiperkoagulasi, dan iskemia di antara individu yang sudah memiliki beban aterosklerotik tinggi, diabetes, bahkan stroke.
  2. Meningkatkan Gangguan Kesejahteraan Mental
    Bekerja keras tanpa istirahat dalam hustle culture juga bisa meningkatkan risiko gangguan pada kesehatan mental. Saat stres terus-menerus terjadi, maka hormon stres (kortisol) akan terlepas dalam jumlah yang lebih tinggi dan untuk periode yang lebih lama. Beberapa masalah yang sering dialami adalah gejala depresi, kecemasan. Bahkan menurut hasil penelitian Komunitas Kala Krisis Keluarga Besar Mahasiswa FK Unair, ada 1 dari 3 pekerja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental akibat jam kerja berlebih. 
  3. Kehilangan Work Life Balance
    Budaya hustle culture akan membuat Anda kehilangan work life balance dimana persentase bekerja akan mendominasi waktu Anda seharian dibanding waktu bersama keluarga, pasangan, maupun teman. 
  4. Produktivitas Menurun
    Hustle culture seolah-olah memberi ilusi meningkatkan produktivitas karena waktu bekerja yang lebih banyak. Namun, bekerja terus tanpa jeda istirahat justru membuka potensi besar untuk stres. Stres yang berkepanjangan akhirnya membuat Anda burnout sehingga semangat kerja jadi menurun. Hal ini tentunya membuat produktivitas ikut menurun juga.
  5. Menciptakan Lingkungan Kerja Yang Toxic 
    Hustle culture memberi dorongan bagi kita untuk bekerja secara terus-menerus melebihi orang lain agar bisa jadi yang terbaik. Hal ini justru bisa menciptakan lingkungan kerja yang toxic. Ini karena ketika setiap pekerja memiliki ambisi mencapai puncak, maka peluang terjadinya kompetisi yang tidak sehat akan lebih mudah muncul. 

Beberapa dampak buruk pada hustle culture ini menjadi pengingat agar kita dapat bekerja dengan sewajarnya. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu keseimbangan hidup tetap terjaga dengan baik.

Bagikan Artikel

Artikel Lainnya