Berkarya dan Memajukan Bangsa Lewat Blog? Pasti Bisa!

December 28, 2010

Berawal dari iseng-iseng saat googling, Bapak Urip mendaftarkan blognya (Log Pembelajar Kimia di Borneo) untuk  mengikuti acara Acer Guru Era Baru Award. Tak disangka, beliau berhasil menang!

Bapak Urip  atau akrab dipanggil Pak Urip adalah guru Kimia sekaligus guru Teknologi Informasi dan Komunikasi di MAN Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Tapi selain pendidik, beliau juga pemenang Acer Guru Baru (GURARU) Blog Award  karena beliau dinilai telah berhasil memanfaatkan teknologi informasi khususnya blog sebagai kanal baru dalam proses belajar mengajar yang interaktif.

Awal ‘perkenalan’ beliau dengan dunia teknologi sebenarnya sudah sejak tahun 1998. Namun saat itu, Pak Urip belum mengerti apa sebenarnya blog itu, dan apa pula manfaat blogging. “Waktu tahun ’98 itu kan baru pakai fasilitas teknologi paling sebatas untuk ngetik-ngetik atau mengirim surat elektronik saja” ujar Pak Urip. Nah, pada tahun 2006, barulah Pak Urip mulai mengetahui apa itu blog dan membuatnya.

Awalnya, blog milik Pak Urip tidak ditujukan untuk membantu proses belajar-mengajar dengan murid. Tapi kemudian pak Urip mengalami situasi yang membuat dia merasakan adanya tanggung jawab moral untuk membagi ilmu yang dimilikinya kepada orang lain lewat blog.

Salah satu peristiwanya adalah saat ada informasi baru yang harus disampaikan ke para guru sehubungan berlakunya kurikulum baru, “Iya, dulu ada kurikulum baru yaitu Kurikulum KTSP. Nah, sekolah kami dapat giliran pelatihannnya terakhir,” ujar Pak Urip. Namun karena kondisi sekolahnya yang terletak agak jauh dari pusat kota, dan sekolahnya dapat giliran terakhir mengakibatkan informasi ini telat padahal kurikulum tersebut harus sudah mulai berjalan. ”Akhirnya saya minta tolong salah seorang teman yang sudah dapat pelatihan duluan,” ujarnya.

Dari situ Pak Urip terpikir pasti kejadian seperti ini bisa juga dialami oleh pengajar lainnya dan ide sharing di blog itu muncul. “Ya, informasi yang saya dapat kemudian saya sharing di blog. Ternyata, banyak orang-orang yang bertanya tentang KTSP ke saya itu,” jelasnya. Nah, sejak itu, sekitar tahun 2007, isi blog Pak Urip pun dikembangkan untuk membantu proses belajar-mengajar para muridnya di sekolah.

Khusus untuk para muridnya, Pak Urip mengusahakan agar blognya dapat membantu murid dengan pelajaran mereka di sekolah. Pak Urip juga kerap mengajak murid-muridnya untuk aktif nge-blog meski beliau tidak pernah memaksakan hal tersebut kepada muridnya di sekolah. “Saya tidak pernah mengajak secara langsung murid-murid untuk membuat blog, hanya saja, saya menceritakan pengalaman saya sendiri, bagaimana dengan menulis bisa begini dan begitu. Nah, dari cerita saya itu beberapa memang ada yang kemudian jadi tertarik untuk membuat blog.” lanjut Pak Urip.

Sayangnya, lagi-lagi adanya keterbatasan sarana, tidak semua orang bisa langsung membuat blog dikarenakan terbatasnya fasilitas dan lokasi sekolah yang jauh dari pusat kota. Meski begitu, para murid Pak Urip tetap menanggapi secara positif blog milik Pak Urip ini.  Mereka tetap bersemangat belajar lewat blog Pak Urip meski sebagian murid harus rela  mengeluarkan uang untuk ke warnet.

Pak Urip sendiri selalu berprinsip bahwa ilmu apapun yang dimiliki dan dipelajarinya, akan dipraktekkan dan dibagi dengan orang lain. Meski ada sebagian orang yang berkomentar tidak enak soal kegiatan bloggingnya, Pak Urip tetap mendorong dan mengajak guru-guru lain dan juga muridnya untuk aktif memanfaatkan teknologi, khususnya blog.

Mengajak orang agar aktif nge-blog memang bukan perkara mudah. Pak Urip sendiri mengakui ada beberapa hambatan yang ia temui. Misalnya saja masalah bahasa, terkadang orang-orang merasa malas jika terbentur dengan bahan Bahasa Inggris, meski ada aplikasi yang dapat membantu seperti misalnya translator dari Google. Pak Urip sempat cerita sebuah kejadian lucu yaitu saat dia mengajak temannya nge-blog, si teman menolak. Tapi tidak disangka, ternuata diam-diam akhirnya sang teman membuat blog juga. “Mungkin mereka malu dan tidak percaya diri saat pertama menulis di blog,” ujarnya lagi.

Berbicara menulis di blog, Pak Urip sadar beliau tidak bisa asal tulis juga apalagi jika blognya memang ditujukan sharing pengetahuan. Jadi, Pak Urip aktif mencari tahu lewat berbagai sumber, dari hasil chatting, diskusi di forum, dan lain-lainnya. Ia juga browsing dulu apakah ada artikel yang akan ditulis sudah ada yang memposting duluan atau belum. “Jika ternyata pas browsing sudah ada tulisannya, saya akan bahas sisi lain, karena orang kan belum tentu tahu dari berbagai sisi ya.” ujar pak Urip. Namun, jika postingan yang akan dibuatnya ternyata belum pernah ada, Pak Urip merasa bangga. “Ada penghargaan dan kepuasan tersendiri kalau saat browsing, postingan saya ada di urutan paling atas. Memang tidak gampang mencari keyword yang dapat mengantar kita pada posisi paling atas itu”, ucapnya bangga. Menurutnya, ini adalah pengetahuan lain yang ia dapatkan dari nge-blog itu.

Teknologi, menurut Pak Urip, “Bukan sekedar alat, tapi juga tempat berbagi ilmu” Beliau sekaligus menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi secara tepat dan bijak. Lebih dari itu bagi Pak Urip sendiri, mengikuti perkembangan teknologi dianggap dapat mengangkat harga diri dan wibawa seorang guru. Segala pengalamannya itu kemudian mengantarkannya sebagai guru pertama yang menerima Acer Guru Era Baru Award.  “Bagi saya, mengikuti ini (Acer Guru Era Baru Award—red) adalah sebuah bentuk penghargaan untuk saya,” paparnya. Semoga semangat Pak Urip bisa menjadi inspirasi bagi pendidik-pendidik lainnya termasuk anak didiknya.

Sumber Gambar: Dok. Pribadi Bapak Urip