Predator Warrior Melondoto, Caster Pro dengan Banyak Misi Membangun eSports Indonesia

January 3, 2019

Sampai saat ini, Indonesia sudah punya beberapa nama caster profesional, salah satunya Gisma Priayudha alias Melondoto, yaitu shoutcaster yang dikenal dari game Dota 2 dan andilnya dalam mengembangkan eSports di Indonesia.

Ternyata nih, perjalanan Melondoto menjadi caster profesional di Indonesia tidaklah mudah. Berawal di tahun 2013, yaitu ketika saat keinginan menjadi caster tumbuh dalam dirinya, namun ia masih menjadi operator di warung internet (warnet) sembari mulai belajar nge-cast dengan masuk ke aplikasi Twitch.

“Awalnya jadi operator warnet, dari situ mengenal aplikasi livestream bernama Twitch, ada pertandingan Dota 2, dan ada komentatornya. Dari situlah muncul keinginan jadi caster,” paparnya.

Sepertinya talenta dan bakat Melon menjadi caster memang sudah terlihat,mengingat ia datang dari keluarga yang terjun di dunia broadcasting. Ayahnya adalah penyiar radio, begitu pula  saudara-saudaranya. Tak terkecuali Melon yang memilih jalur caster eSports.

“Dari menjadi caster itulah gue bisa main sambil senang-senang. Paling tidak, orangtua bangga dengan casting-nya, sedangkan gue happy dengan main game-nya.”

Perlu kamu tahu juga bagaimana perjuangannya dahulu. Di usia 19 tahun Melon sudah menikah, lho. Mau tidak mau, saat itu harus mencari penghasilan lebih untuk menafkahi istri dan anaknya dengan tetap mengasah kemampuannya sebagai caster.

“Jadi operator warnet, kan, tidak banyak gajinya. Akhirnya nyari selingan, jual kue kecil di warnet, kemudian dikembangkan lagi jadi jual bakso, istri yang jaga. Gue juga ngirim-ngirim es lilin ke sekolah,” kenangnya.

Titik awal menjadi caster

SpAcer, menjadi caster bukan hal yang mudah. Kamu harus punya kemampuan berbicara dengan baik dan menarik. Pada awalnya pasti nggak semulus yang diharapkan. Hal ini juga dialami caster yang tidak suka sama tempat nongkrong hype ini.

“Awalnya tidak ada yang nonton, teman-teman sendiri saja yang nonton. Dari satu penonton, akhirnya timbul respect dari orang lain.”

Coba bayangkan saja, saat itu, Melon masih nge-cast di warnet. Suasana yang berisik dan peralatan seadanya membuatnya susah berkembang. Kamu pasti tahu, dong, peralatan untuk nge-cast yang mumpuni itu sangat mahal?

“Gue jual motor untuk beli PC dan peralatan nge-cast. Itu tahun 2013 akhir sudah mulai mengerti cara mengembangkan (ilmu casting). Namun di dunia caster itu duitnya tidak banyak, saat itu (tahun 2013) juga belum banyak turnamen yang butuh caster,” katanya mengingat masa lalu.

Banjir tawaran yang terus berdatangan

Setelah melewati banyak masa sulit menjadi caster, perlahan-lahan rezeki datang kepadanya untuk mengembangkan game dan eSports Indonesia.

“Awalnya menggerakkan komunitas hanya di Malang, waktu itu, ada orang TMCI Café lagi cari orang untuk handle turnamennya. Semenjak gue handle turnamen itu, mereka mempercayakan semua turnamen dari Komunitas Warnet Indonesia (KWI) ke Melondoto.”

Sejak saat itu, nama Melondoto menjadi semakin besar ketika menjadi caster di turnamen yang diselenggarakan KWI. Otomatis, penghasilan semakin bertambah, hingga mampu membuat turnamen sendiri dan nge-cast di hajatannya.

Nah, dengan banyak pengalaman, pasti ada poin-poin penting yang bisa diambil untuk para caster pemula. Baginya kualitas adalah segalanya dan harus ingat bahwa caster membawa turnamen menjadi berwarna, yang mana orang-orang tidak hanya nonton tapi ikut deg-degan sekaligus senang.

“Prinsip gue jadi caster, anggaplah eSports ini asrama, asrama kalau pagi, siang, dan sore dikasih tempe, pasti dimakan. Kalau misalkan ada caster Melon pun, pasti dinikmati. Akhirnya. Kalau ada turnamen apa, gue ajuin portofolio dan proposal,” kata cowok berusia 27 tahun ini.

Bukan hanya nge-cast, bersama KWI, Melon mengembangkan eSports di Indonesia hingga bermunculan iCafe. “Dari situ kita mulai nge-handle 16 iCafe langsung. Apalagi tahun 2015, penuh banget turnamen di seluruh Indonesia. Kita memperkenalkan eSports di iCafe. 2015 telah merubah hidup gue.”

Dua tahun berikutnya, merupakan masa-masa Melondoto “memetik” hasil jerih payahnya selama 2 tahun. Yaitu ketika sponsor mulai antre berdatangan setelah melihat kemampuannya dan komunitas KWI semakin berkembang.

Buat kalian yang belum tahu, Melon suka mencari bibit-bibit unggul untuk menjadi penerus atlet eSports di Indonesia. Sampai keliling warnet di kota-kota besar atau kecil sekalipun untuk mencari talenta tersembunyi.

Bangun Komunitas dan esportpreneur

Tahu nggak kalau Melon yang sering disebut ‘Peternak Lele’ ini punya komunitas untuk caster dan terus berkembang dari tahun ke tahun? Bahkan, ia berani jamin, caster yang ada di komunitasnya pasti ramai yang nonton, apalagi jika ada pro team yang main. Nah, dengan cara ini, perlahan-lahan ia mundur dan memberikan kesempatan bagi caster baru lainnya untuk berkembang.

Nggak cukup komunitas, cowok yang bisa menghabiskan waktu 4 jam main game dalam sehari ini rajin banget memperkenalkan eSports di sekolah hingga universitas sekaligus menjelaskan kepada orangtua di Indonesia bahwa dunia gaming di Indonesia bisa menjadi profesi positif. Bisa dibilang jadi esportpreneur, deh.

Melondoto

Menjadi keluarga Predator Warrior!

Jam terbang yang tinggi, nggak heran deh kalau Melon sah dikukuhkan sebagai salah satu tim Predator Warrior dengan karakternya sebagai The Savage Caster. Tidak dipungkiri juga kalau ia suka spesifikasi perangkat Predator.

“Gue suka banget Predator karena bisa mengatur panas, berbeda dari yang lain. Ada metallic fan, ada software yang bisa mengatur overclocking, itu yang gue suka . Yang paling gue butuhin dari laptop gaming adalah all in one; laptop yang bisa gue pakai untuk main game, recording, live streaming, plus editing,” katanya detail.

Menjelang Predator League 2019, penggemar hero Nature Prophet dari Dota 2 ini punya pengalaman tersendiri terhadap turnamen ini, mengingat sebelumnya menjadi caster di Predator League 2018.

“Menariknya Predator League 2018 adalah salah satu event yang dipegang oleh orang luar Jakarta, kita waktu itu hanya 4 orang yang menjalaninya dan berpikir bagaimana bisa jalan acara itu. Hasilnya memuaskan, dari segi livestream hingga crowd, itu berhasil semua.”

Apalagi, ketika dipasangkan dengan caster Dimas Dejet, yang juga sebagai caster profesional di eSPorts Indonesia, bisa membuat dirinya nge-cast lebih santai dan rileks.

Harapannya untuk eSports Indonesia

Sejauh pengamatan dan pengalamanya, Melon melihat masyarakat penikmat eSports di Indonesia masih fokus ke mobile game saja.

“Gue ingin gamers merasakan apa yang gue rasakan, apa itu teknologi, untuk bisa benar-benar merasakan eSports, dan semua itu ada di dunia PC. Di smartphone gue rasa tidak. Goyang jempol doang apa faedahnya?”

Intinya, jangan hanya terpaku di smartphone saja, tapi mencoba game eSports di PC kalau ingin mengembangkan eSports Indonesia. Pasalnya, ia menekankan, game di smartphone memang banyak audiensnya dan sekadar happy-happy, tapi tim gaming PC seperti Dota 2 selalu punya tujuan untuk go international.

So, kalau diperhatikan, memang banyak cara yang Melondoto lakukan untuk memajukan eSports Indonesia. Mau tahu aktivitas Melon, follow Instagramnya @melondoto, ok!