2013: Smartphone, Tablet, atau Laptop?

December 14, 2012

Seperti apakah gadget-gadget yang bakal hot tahun depan? Bagaimana konsumen harus bersikap menghadapi kemunculan perangkat-perangkat baru? Bagaimana pula konsumen memilih perangkat yang sesuai?

Begitulah pertanyaan yang biasa muncul di penghujung tahun. Sebelum kalender disobek dan fajar tahun baru merekah, pertanyaan-pertanyaan itu harus terjawab agar tak menimbulkan kebingungan.

Kita tahu gaya hidup sangat mempengaruhi tren teknologi sehingga kata “keren” begitu penting di benak konsumen. Kalau sebuah perangkat dianggap tak keren, maka jangan harap konsumen bakal melirik, apalagi membelinya.

Seperti apa perangkat yang keren itu?

gadget_Ndoro

Buat saya, gadget yang keren itu dilihat dari bahannya, dari plastik, karbon, aluminium, atau gabungan dari beberapa material lain. Peranti yang keren mestinya terbuat dari bahan yang kuat tapi ringan agar tak merepotkan jika dibawa kemana-mana.

Desainnya pun mesti ergonomis, tipis, terlihat menawan dalam pelbagai pilihanwarna.

Fitur-fiturnya harus lengkap agar mampu memenuhi pelbagai kebutuhan kerja, hiburan, dan akses informasi.

Tampilan monitor yang terang, jernih, dan warna-warni akan menambah kekerenannya. Jangan lupa pula daya tahan baterai harus cukup memenuhi kebutuhan mobile, jauh dari colokan listrik.

Daya tahan baterai itu penting karena kita tahu bahwa gaya hidup masyarakat semakin mobile pada tahun-tahun belakangan ini. Di kota-kotabesar, sudah jamak kita lihat para pekerja berpindah dari satu tempat ketempat lain seraya tetap bekerja. Pekerjaan akan terganggu jika tiba-tiba gadget mati karena kehabisan daya bukan?

Seperti apakah perangkat yang keren dan cocok untuk gaya hidup mobile itu?

Biro riset IDC menyatakan perangkat yang mendukung gaya hidup mobile diterjemahkan sebagai komputer tablet dengan layar kurang dari 8 inci. Perangkat jenis ini, menurut IDC, mendominasi 60 persen pasar. Sedangkan permintaan untuk “Phablet” — kombinasi ponsel dan tablet — tumbuh 20 persen.

Pertumbuhan yang kencang itu tentu saja berimbas pada kompetisi antara produsen perangkat keras dan pengembang aplikasi yang semakin sengit. Perang antar poduk pun tak kalah keras.

Dalam situasi seperti itu, konsumen pun berdiri di simpang jalan.Mau pilih telepon pintar, tablet, phablet, atau laptop? Para pelajar dan mahasiswa yang hendak membeli perangkat untuk membantu mereka mengerjakan tugas-tugas pun tak kalah pusing.

Scott Campbell, guru besar StudiKomunikasi di Universitas Michigan, mengatakan tablet merupakan peranti yang cocok untuk aktivitas seperti menonton video, melihatg ambar, dan mengakses halaman web.

“Sedangkan laptop memiliki keyboard  yang membuatnya lebih fungsional untuk mengetik dan leluasa memproduksi aneka macam konten.”

Campbell menganggap laptop lebih cocok untuk pelajar dan mahasiswa. Laptop akan membantu mereka mengerjakan tugas sekolah atau kuliah.

“Meskipun kita dapat menambahkan keyboard eksternal untuk tablet, kenikmatan pemakaiannya berbeda dibanding laptop,” kata Cambell.

Analist eknologi Jeff Orr dari ABI Research menilai para orang tua cenderungmembeli tablet untuk anak-anaknya bukan untuk keperluan belajar.

“Tablet dibeli sebagai perangkat kedua setelah PC dan digunakan secara bergantian dalam sebuah keluarga,” ujar Orr.

Saya sendiri melihat kecenderungan itu di lingkungan terdekat.Teman-teman saya membeli telepon cerdas dan tablet yang kemudian dipinjamkan ke anak-anaknya sebagai alat permainan. “Kalau sudah sampai di rumah, tabletku dikuasai anakku, buat main Angry Bird, ” kata seorang kawan.

Memang tak tertutup kemungkinan bahwa di masa depan tablet akan mampu memenuhi berbagai kebutuhan setara dengan laptop. “Tapi tampaknya para produsen masih butuh waktu lagi untuk menciptakannya,” tutur Orr.

Itu sebabnya kita masih melihat orang-orang memonitor beberapa layar sekaligus di tempat kerja, telepon cerdas, tablet, PC atau laptop. Di antarateman-teman saya pun belum ada yang sudah berhasil hanyamembuka satu layar. Rata-rata mereka membuka dua, telepon cerdas dan laptop.

Buat Anda, jika kebutuhannya lebih banyak ke content creation,  sebuah laptop sudah cukup. Dan tak perlu memaksakan diri membeli Tablet. Kecuali memang kantong Anda begitu tebal berisi dolar.

Apa pun perangkatnya, semuanya sebetulnya kembali kekebutuhan para konsumen yang berbeda-beda. Diperlukan sikap yang cerdas dan bijak saat memilih gadget. Konsumen tak harus membeli perangkat yang serba canggih dan lengkap karena belum tentu semuanya terpakai.

Memang konsumen di Indonesia umumnya banyak maunya. Ingin laptop yang tipis, punya banyak slot USB, ada akses 3G plus wifi, dan mempunyai pemutar DVD. Padahal di pasar tak ada perangkat yang sempurna dan serba lengkap. Kalaupun ada, harganya pasti mahal.

Setiap penambahan fasilitas, pasti ada fungsi lain yang dikorbankan. Laptop yang tipis, misalnya, tak menyediakan pemutar DVD. Ini dikarenakan para produsen mengutamakan ketipisan, bukan kelengkapan media.

Perlu diingat juga, meski sebuah perangkat tak punya koneksi 3G, biasanya ada pilihan koneksi wifi, sehingga kebutuhan untuk menyusuri Internet tetap bisa dilakukan. Kecuali memang Anda mempunyai anggaran tak terbatas, perangkatdengan koneksi wifi sudah cukup memenuhi kebutuhan.

Yang tak kalah penting, saat Anda hendak membeli sebuah produk, harap mempertimbangkan jaringan servisnya. Percuma Anda mempunyai gadget canggih tapi kalau ada kerusakan susah menemukan tempat untuk memperbaiki bukan?

Jangan terburu nafsu atau ngiler melihat brand tertentu hanya karena teman Anda memilikinya. Pilih brand yang jelas jaringan purna jualnya dan mudah dihubungi.