Narsis Biar Eksis
Siapa yang menyangka Sinta dan Jojo, dua orang mahasiswi yang awalnya biasa saja, kini mendadak menjadi selebriti dan diperbincangkan dimana-mana? Hanya demi ekspresi diri semata, video lipsynch mereka menjadi tontonan masyarakat dunia? Sesuatu yang tidak direncanakan ternyata berdampak nyata bagi mereka berdua. Terlepas dari argumentasi apakah keduanya bisa dibilang kreatif atau tidak, tindakan mereka membuktikan, kalau setiap orang kini berpeluang menjadi seseorang yang eksis, dengan hanya bermodalkan konsistensi di ranah social media.
Tidak ada yang bilang suara Sinta dan Jojo bagus. Kesukaan mereka mungkin hanya karaoke dan berjoget. Bisa jadi banyak pula ribuan orang pengguna internet lainnya yang punya kesukaan serupa. Namun hanya Sinta dan Jojo saja yang terlihat berani menunjukkan kesukaannya itu di ranah social media. Tindakan yang ternyata membuka kesempatan bagi mereka berdua untuk kini bisa tampil di televisi. Tindakan yang ternyata membuat mereka berdua menjadi bahan percakapan terus di Twitter, bahkan menjadi trending topic selama hampir seminggu ini.
Lalu apakah untuk eksis dan diakui banyak orang, kita harus menjadi seperti Sinta dan Jojo? Nggak dong. Kesempatan menjadi seperti mereka bisa jadi cuma datang sekali. Belum tentu juga eksistensi mereka berdua bisa bertahan lama, apalagi kalau aktivitas mereka di social media YouTube tidak diikuti oleh rangkaian hal lain yang lebih kreatif dan menarik. Yang perlu kita lakukan untuk bisa eksis dan mendapat pengakuan adalah konsisten berkarya dalam hal-hal yang jauh lebih kreatif.
Seorang teman fotografer menunjukkan kalau ia bisa menjadi seorang yang narsis dengan memamerkan foto-foto karyanya di beberapa blognya. Bahkan ada satu blog khusus yang ia pakai untuk menampilkan jepretan hitam putih profil beberapa orang kenalannya, dari blogger, artis, politisi, hingga orang yang bukan siapa-siapa. Si fotografer menunjukkan keahliannya di sini. Hal ini menambah besar peluang bagi dirinya untuk dikenal oleh beragam lapisan masyarakat, yang pastinya secara tidak langsung akan memberikan nilai ekonomi pada profesionalitas pekerjaannya.
Seorang teman lainnya punya hobi menulis fiksi. Terlepas dari blog pribadinya, ia punya satu blog khusus untuk cerita berserinya. Ia menunjukkan kenarsisannya dengan mengeksplorasi bakat tulis-menulisnya. Tidak jarang pula ada blogger yang menunjukkan dirinya eksis dengan mengadaptasi tulisan-tulisan di blognya dan merangkumnya menjadi sebuah buku. Tulisannya di blog diakui mencerahkan para pembacanya. Saat tulisannya dicetak menjadi sebuah buku, si blogger pun senang, karena itu artinya akan ada banyak pembaca baru yang (mudah-mudahan) akan tercerahkan. Penggemarnya pun semakin banyak. Tanpa terasa kenarsisannya menulis bisa berimbas kepada tingkat eksisnya.
Ada lagi seorang teman yang sangat peduli terhadap dunia daring di Indonesia. Ia juga sangat peduli terhadap munculnya pengembang-pengembang situs muda. Melalui blognya, ia berbagi informasi ini kepada para pembacanya. Ia tidak berharap banyak profit, tapi ia senang kalau dunia daring Indonesia bisa tumbuh dan berkembang. Sebagai pengamat, ia menuliskan beragam bocoran info terbaru. Blognya kini menjadi rujukan perkembangan utama perkembangan dunia dotcom baru Indonesia. Kini semua orang tahu dan kenal akan dirinya. Jelas sudah tidak diragukan lagi tingkat eksistensi dirinya di kalangan pengembang dotcom baru Indonesia.
Narsis tidak melulu harus pamer foto diri dengan gaya alay. Narsis tidak melulu harus bergaya norak dan mengetik dengan bahasa libet. Narsis bisa dilakukan dengan cara unjuk keahlian dan kemampuan. Anda punya keahlian menulis, berpuisi, fotografi, desain, ilustrasi, tunjukkanlah di social media yang tepat dan pamerkan ke segenap teman Anda.
Anda suka sekali mengamati perkembangan budaya dan politik, tweet-kan tanggapan Anda dengan kritis. Tunjukkan kalau Anda berani menanggapi setiap masukan dan berdebat positif dengan teman-teman Anda. Apapun kegiatan narsis yang Anda lakukan, sepanjang Anda konsisten melakukannya, tak lama Anda akan punya personal brand yang lekat dengan itu. Kalau sudah punya personal brand, nggak usah khawatir soal eksis-eksisan, karena itu akan datang kepada Anda dengan sendirinya.
Kredit foto: Whatshername





Pingback: Tweets that mention Narsis Biar Eksis | Acer Indonesia -- Topsy.com
eh ada tautan ke blogku, hihihi…
betul, kakak pitra. narsis, selama narsisnya positif dan ga ada niatan aneh2 kayak mau sok2an, sangat penting buat membangun personal brand. sebenernya aku ngertinya juga baru sekarang2 ini sih… dulu2 aku ngeblog ya tujuannya buat katarsis doang, ga ada niat pengen dikenal orang. manalah aku tau kalo aktivitas blogging membawa banyak keuntungan, salah satunya bisa kenal dengan kakak pitra *PLAK!*
Pingback: Media Ide » Blog Archive » Narsis Biar Eksis