Yeehaaa…!!


Dari semua fase pembuatan film, yang paling saya sukai adalah proses penulisan skenario. Oke, syuting sebagai sutradara memang bikin orang merasa kayak raja. Ke mana-mana kursi pasti disediakan, kalo panas selalu dipayungi, kalo mau minum jus duren tinggal bilang, “Jus duren enak nih”, dan para kru langsung sigap mencari duren walaupun jauhnya naujubillah. Nggak tau deh, apa pake dimasukin upil sama yang nyari atau nggak karena kesal. Tapi saat penulisan skenario, di sini magic dimulai. Pada saat inilah ide-ide yang berseliweran di udara, ditangkap, dibentuk, dan diabadikan di halaman-halaman skenario. Sebuah proses kreatif yang sangat bebas dan mengasyikkan. Kalau ada yang bilang seorang sutradara adalah seseorang yang “playing god“, yang lebih benar adalah penulis skenario yang “playing god.” Untungnya, selain seorang sutradara, saya juga seorang penulis skenario. Jadinya double “playing god.” Sayangnya, saya bukan juga seorang ahli bedah. Kalau iya kan berarti triple “playing god.” Apalagi kalau saya juga seorang… Ah sudah lah.

Setiap menulis skenario, saya sangat jarang menulis di rumah. Bukan karena rumah saya ada di perkampungan yang setiap pagi selalu ramai suara ayam jago atau setiap siang ramai suara penjual makanan keliling, atau setiap sore selalu ramai suara ibu-ibu kampung bergosip tentang ibu-ibu kampung lain yang kebetulan saat itu tidak ikut bergosip. Bukan pula karena rumah saya ada di sebelah pusat pelatihan babysitter yang selalu berteriak kalau berlatih bahasa Inggris, “Good morning how are you fine thank you how about youuu..??” Lalu melafalkan alfabet dalam bahasa Inggris. Saya tidak pernah membutuhkan suasana tenang saat menulis. Bagi saya menulis di luar rumah membuat ide lebih mengalir. Setiap kali kehabisan ide, saya selalu memperhatikan wajah dan perilaku orang-orang, dan ide biasanya kembali muncul. Karena itu saat senang menulis di tempat-tempat di mana banyak orang datang dan pergi silih berganti: di kafe, di stasiun kereta (kalau nggak musim panas. Kalau keringetan saya susah nulis, bawaannya lemes), atau di taman (kalau nggak sedang di Jakarta, tentunya. Di Jakarta taman susah ditemui kecuali Taman Lawang).

Bepergian untuk menulis sangat menyebalkan kalau harus membawa laptop yang besar, apalagi kalau berat. Karena kalau belum nulis pundak sudah sakit karena bawa tas berat, bawaannya nggak mau nulis tapi mau dipijat. Ada yang pernah bilang kalau dia bisa menulis dengan smart phone. Buat saya, it’s impossible. Selain jempol memang tidak didesain untuk mengetik tulisan panjang, menulis skenario juga membutuhkan software yang menyediakan format khusus. Netbook memang pilihan yang paling tepat. Tapi ada satu hal yang saya takutkan tadinya dari netbook, yaitu kecepatan rendah.  Saya sangat tidak sabar kalau menggunakan komputer lambat. Bawaannya mau ngebanting. Saya tidak suka hal-hal yang berbau slow. Kecuali slow rock. Tapi saya telah menemukan teman baik untuk menulis di luar: netbook Acer Ferrari One.

Acer Ferrari One larinya kenceng. Kalau nggak kenceng, nggak mungkin Ferrari mau namanya dicantumin, kan? Desainnya juga berkelas dan enak dilihat. Rasanya ingin megang terus. Mungkin ada nanya, kalau cuman buat ngetik, buat apa netbook yang kenceng? Buat saya penting sekali. Karena kalau mau starting up saja sudah lamban, bawaannya nggak mau ngetik. Tapi ya itu tadi, mau ngebanting.

Saat ini saya sedang menyelesaikan sebuah skenario untuk komedi musikal yang berjudul “ONROP!“. Kali ini bukan untuk film, tapi musikal panggung. Sebuah tantangan yang besar karena tidak akan ada editing. Tidak ada “cut” dan “ulang lagi” untuk adegan yang salah. Tapi bagi saya ini adalah satu break dari film yang saya butuhkan. Mumpung animo masyarakat untuk nonton film Indonesia sedang turun karena kebanyakan film setan mens. Mudah-mudahan para pencari untung yang membuat film-film kacau itu tahun depan sudah kembali ke jalan mereka masing-masing sehingga pembuat film beneran bisa bekerja lagi.

Anyway, sebulan terakhir saya selalu kencan dengan Acer Ferrari One saya. Kalau sedang menulis di luar, satu hari bisa selesai 10 halaman. Ini berarti sangat lancar. Keyboard Acer Ferrari One yang sangat enak untuk dipencet sangat membantu. Sekalipun body-nya kecil, tuts-nya besar. Saat ini, skripnya sudah 90% kelar.

Sayang sekali saya belum bisa bercerita banyak soal “ONROP!“. Tapi kami akan menjadikan ini sebagai sebuah tontonan yang segar. Mudah-mudahan semakin banyak orang bikin drama panggung. Karena, kalau semua para pencari untung bisa dengan gampang merekam sesuatu dan menamakannya “film” dan memutarnya di bioskop, rasanya akan sulit bagi mereka untuk melakukan hal yang sama di panggung. Ha ha ha… beat that!

Ya sudah lah. Saya menulis lagi, ya…

Jokster

Apr 22 2010

on Friends Of ACER

2 Responses to Yeehaaa…!!

  1. sangat menarik. saya juga suka nulis skenario, bernagi yuk…….

    By bayu insani (flp hk) Reply
  2. Huahahaha…!!! Gokillll….!!!

    By Gundala Hariadi Reply

Submit Comment

  1.